CAUTION BLOGGER! Workshop Pembuatan Blog Terkeren!
Kalau aku disuruh untuk nge-rating workshop ini, aku akan ngasih 10/10. Keren abiezzzz.....
Acara yang diadakan selama dua hari ini, memberi banyak pengalaman dan pembelajaran baru untuk para pesertanya. Tepat pada tanggal 24-25 Agustus 2022, bertempat di kafe Spasi Creative Space di Jalan Sawo Barat No. 46, Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Jawa Tengah, pelatihan pembuatan blog ini dilaksanakan.
![]() |
| http://spasimovingimage.com |
Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal yang bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kota Tegal bagi siswa SLTA se-Kota Tegal, dan dibuka oleh Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal, Yono Daryono.
SMK N 2 Tegal yang merupakan sekolahku sendiri, mengirimkan empat orang siswi untuk mengikuti pelatihan blog ini. Kami sangat bersemangat dalam mengikutinya walaupun kegiatannya hampir sehari penuh, karena Workshop dimulai pukul 08.00 sampai pukul 15.30. Tetapi jangan khawatir, istirahat pasti ada kok! Bahkan kita mendapatkan makan siang, snack, dan minuman tentunya.
Nah, untuk pematerinya itu ada Mas Hoeda, dan Mbak Widhie. Pada hari pertama, Mas Hoeda atau "Ki Demang" lebih dahulu nih yang mengisi materi. Beliau menjelaskan tentang pengenalan blog, cara membuat dan mengatur blog, membuat postingan, mengatur tema dan tata letak, serta masih banyak lagi. Sedangkan pada hari kedua, Mbak Widhie alias "Emak Blogger" yang mengisi materi tentang dasar SEO (Search Engine Optimization) atau agar situs atau blog mudah ditemukan oleh banyak orang.
Cara penyampaian Mas Hoeda dan Mbak Widhie sangat mudah dipahami, sehingga membuat blog terasa mudah, menyenangkan, dan nggak ngebosenin.
Kita juga dapat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang baru dari berbagai sekolah yang memiliki hobi dan tujuan yang sama. Sehingga relasi kita bertambah, dan dapat saling berdiskusi, hingga bercanda bersama.
Wait! kita para peserta juga mendapat kaos dan totebag bertuliskan "Caution Blogger" loh.... Dengan itu, aku merasa sudah bergabung dalam komunitas blogger, hihihi...
Sangat disayangkan acara hanya berlangsung dua hari. Semoga kedepannya akan diadakan pelatihan lanjutan untuk kita para peserta, dan juga dijadikan rutinitas setiap tahunnya sehingga adik-adik kita dapat belajar membuat blog.
Harapan dariku untuk para peserta yang telah mengikuti workshop ini, semoga kalian tidak barlen (bubar klalen-dalam bahasa Tegal yang artinya, setelah selesai langsung lupa). Ilmu mahal ini bisa kita dapatkan dengan gratis. Terus, kenapa tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya? Padahal, jika kita mampu mengelola blog dengan baik dan konsisten, dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah kan? dan juga kalian dan penyelenggara tidak merasakan sia-sia dalam hal ini.
Untuk penyelenggara, aku tidak ingin banyak mengungkapkan harapan (karena berharap itu sakit), hanya saja semoga kegiatan seperti ini akan terus dilaksanakan. Bukan hanya pembuatan blog saja. Tetapi juga tentang kepenulisan, seni musik, seni rupa, hingga kebudayaan dapat diprogramkan untuk selanjutnya.
Aku sangat berterimakasih kepada Dewan Kesenian Kota Tegal selaku penyelenggara, yang sudah mengadakan acara workshop ini, dan dengan segala fasilitas yang kita dapatkan. Sangat bermanfaat untuk menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan untuk kita. Karena selain itu, kita para peserta juga mendapatkan kaos, totebag, alat tulis, snack, dan juga materi. Lumayan kannn....
Untuk yang penasaran dengan pemateri kece Caution Blogger, bisa mengunjungi blog mereka. Ini Mas Hoeda, dan ini Mbak Widhie. Dan untuk yang pengen mampir ke Kafe Spasi Creative Space, ini websitenya.
Jangan lupa kunjungi artikel aku yang lainnya: Catatan Sekolah Estetik!
#lombablog #bloggermuda #belajarblog
Cerpen "Decision"
Decision
Karya: Rezqiana Chantika R.
17 Desember 2021
Gadis cantik itu terlihat fokus membaca novel karangan Tere Liye . Telinganya tersumpal headset dengan sebuah musik klasik mengalun memenuhi rongga telinga. Punggungnya bersandar pada sandaran bangku di gazebo taman sekolah. Sesekali ia menyelipkan rambut panjangnya yang menutupi pandangan ke belakang telinga.
Dia, Elnatha. Gadis yang selalu menduduki peringkat satu paralel di sekolah.
Ketenangannya terganggu saat suara benda terjatuh terdengar di sampingnya. Dia melihat seorang lelaki yang belum pernah ia lihat selama ini, mengambil buku Biologi Campbell dan buku Mekanika Kuantum yang terjatuh lalu ia masukkan ke dalam tas. Dahi Natha mengerut melihat dua buku tersebut.
“Hai Nat!”
Zanna, sahabatnya itu membawa dua botol minuman yang dibeli dari kantin, lalu menyodorkan satu untuk Natha.
“Pengumuman peringkat sebentar lagi mau diumumkan. Lo nggak ada niatan buat masuk ke aula?”
Natha mengangguk sembari membuka tutup botol, “Gue deg-degan Na.”
“Kenapa deg-degan? Pasti lo yang dapat peringkat satu lagi,” ucap Zanna.
Natha hanya mengangkat kedua bahunya.
Mereka berdua melangkah menuju aula, suasananya sangat ramai dipenuhi wali murid yang hendak mengambil rapor. Lagi-lagi Natha tersenyum getir melihatnya. Tidak ada orang tuanya disini.
Bapak kepala sekolah mulai menyebutkan satu per satu nama siswa yang mendapat peringkat di kelas masing-masing. Kini tiba giliran kelasnya,
“Untuk kelas 12 MIPA 1, atas nama Elnatha Kanza Adhitama ditetapkan sebagai peringkat pertama.”
Zanna spontan memeluk Natha sebagai wujud rasa bahagianya. Setelah kelas-kelas selanjutnya diumumkan, sampai kepada pengumuman yang paling ditunggu-tunggu.
“Untuk peringkat paralel kelas 12 tahun ajaran 2021/2022 diraih oleh...” Bapak kepala sekolah dengan sengaja menjeda kalimatnya. Natha terlihat tenang walaupun hatinya tidak begitu.
“.... Rey Satya Darmawangsa dari kelas 12 MIPA 4.”
Hati Natha mencelos seketika. Benarkah bukan namanya yang disebut seperti biasa?
Tepuk tangan menggema di seluruh antero aula SMA Swasta Adiwarna. Seorang lelaki menaiki panggung lalu disalami oleh guru-guru sebagai wujud apresiasi. Dia, cowok tadi yang menjatuhkan buku-buku saat di taman.
Dengan berat hati Natha keluar dari aula, tanpa mempedulikan namanya yang disebut sebagai peringkat dua paralel yang diucapkan oleh Bapak Kepala Sekolah.
*
“Udah gapapa Nat, belum rezeki. Lagian masih semester satu juga, masih ada kesempatan lo nyalip Satya di kelulusan nanti,” tenang Zanna di samping Natha yang tertunduk sedih.
“Dia siapa?”
“Apanya? Siapa yang lo maksud?” tanya Zanna mengerutkan keningnya.
“Satya.”
“Dia murid baru disini, nggak baru-baru banget sih. Sudah pindah semenjak kenaikan kelas 12, pindahan dari SMA Darmawangsa. Lo nggak tau?”
Natha menggeleng pelan.
“Dari awal gue udah duga, kalo bukan lo, ya dia yang bakal dapet peringkat. Tapi dia ganteng banget btw.”
Zanna tersenyum malu saat mengucapkan kalimat terakhir. Ia menunjukkan akun Instagram milik cowok bernama Rey Satya. Terlihat 15.000 akun yang mengikuti. Ada sembilan postingan, delapan diantaranya terlihat Satya sedang memegang trophy, medali, dan sertifikat hasil perlombaan. Dan satu postingan adalah foto candid miliknya, dan likesnya melebihi pengikutnya saat ini.
Hanya satu kata yang terlintas di pikiran Natha tentang Satya saat ini, “mengerikan”. Kepala Natha tiba-tiba pusing melihatnya, dia beranjak menuju ke toilet untuk membasuh wajah, lalu menemui bibinya yang mengambilkan rapor untuknya.
Setelah memastikan wajahnya segar kembali, Natha melangkah keluar dari toilet.
“Hai El.”
Suara itu mengejutkan Natha.
Natha menoleh ragu dengan kening berkerut. El? Elnatha? Namanya? Sejak kapan Satya mengenalinya? Mungkin bukan El itu yang dia maksud, pikir Natha.
Satya tersenyum tipis, setelah itu berlalu menuju toilet laki-laki, meninggalkan Natha yang kebingungan.
*
3 Januari 2022
Natha membolak-balikkan kertas berisi list materi ujian yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Bayangan nama Satya yang disebut sebagai peringkat satu paralel dan fotonya memegang trophy terus menghantui pikirannya. Ia dilanda cemas jika nanti bukan ia yang mendapat gelar sebagai lulusan terbaik tahun ini. Buku-buku tebal dihadapannya seperti tidak berguna lagi selama ini, walaupun ia sudah menghafalkan seluruh isi buku-buku tersebut.
Natha beranjak dari meja belajarnya menuju cermin yang berada di kamar. Ia mematut dirinya di cermin. Gaya rambut barunya sedikit membuat suasana hatinya membaik. Ia bukan tipe cewek alay yang memotong rambutnya disaat kondisinya yang sedang buruk. Memang sejak kemarin ia berencana memotong rambut panjangnya agar terlihat fresh.
Malam ini ia tidak mood untuk belajar. Imajinasinya mengembara, pada peristiwa sehari sebelum ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu.
Natha melompat bahagia sembari menunjukkan medali khusus yang dibuat untuk para pemegang peringkat tertinggi kelulusan SMP kepada ayahnya. Sang Ayah tersenyum lalu memeluknya erat.
“Kali ini, Natha peringkat dua Yah, kalau SMA nanti, Natha janji bakal dapat peringkat satu.”
Ayah Natha mengangguk mengiyakan sembari terus tersenyum.
Tersadar dari lamunannya, Natha terbangun lalu berjalan cepat menuju salah satu ruangan yang tidak pernah ia kunjungi semenjak ayahnya meninggal. Tempatnya berada di ujung rumah, dekat dengan dapur tetapi ada tembok sebagai penyekat sehingga ruangan tidak terlihat.
Tangan Natha menggantung pada daun pintu, matanya tertuju pada tulisan ukiran kayu ‘Prof. Adhitama’. Perlahan ia memasuki ruangan yang di dalamnya berisi alat-alat laboratorium yang sudah berdebu. Matanya menyusuri setiap jengkal tempat yang sedang ia pijak saat ini. Pandangannya terhenti pada sebuah jam kalung di sebuah kotak kaca yang tertutup debu dan sarang laba-laba. Natha mengambil kotak tersebut lalu membukanya perlahan. Jam kalung antik berwarna silver kini berada di genggamannya. Kedua matanya mengikuti detak jarum jam yang masih bergerak normal.
Jarinya menyusuri jam kalung tersebut, lalu tanpa sengaja jarinya memencet tombol yang berada di belakangnya. Suasana tiba-tiba menjadi menggelap perlahan, suara denging yang sangat keras memekakkan telinga, napasnya terasa sesak, kepalanya berputar-putar, ia tidak sanggup. Kesadarannya menghilang, kakinya tidak kuat menopang berat tubuhnya. Ia pun terjatuh ke lantai.
Kedua bola matanya perlahan terbuka, sisa-sisa sakit kepala masih terasa. Tempatnya masih sama, di ruang laboratorium. Apa yang telah terjadi? Batin Natha bertanya-tanya.
Setelah menyesuaikan dengan suasana, ia baru tersadar atas apa yang telah terjadi. Dengan terburu-buru ia berlari menuju kamarnya. Ia melihat kalender yang tertempel pada dinding, yang selalu ia sobek setiap harinya.
10 Juni 2021
Itu artinya, ia kembali kurang lebih ke tujuh bulan yang lalu. Sungguh, tadi Natha hanya ingin mengecek apakah jam kalung yang merupakan mesin waktu masih berada pada tempatnya. Ia benar-benar belum siap. Rasanya Natha ingin menangis sekarang. Bagaimana ini?
Baiklah, karena dirinya sudah terlanjur terjebak di masa lalu, ia akan mulai menjalankan misi yang tiba-tiba ia rancang saat sebelum pergi ke ruang laboratorium milik ayahnya. Yang paling penting adalah, ia harus mematuhi peraturan tertulis yang pernah ayahnya bilang empat tahun yang lalu.
Ia mengambil sebuah kertas kuno yang terselip di dalam kotak jam tersebut.
Jangan sampai bertemu diri sendiri di masa lalu
Jangan sampai orang masa lalu tau bahwa dirinya dari masa depan.
Anda hanya bisa bertahan selama satu bulan di masa lalu, maka manfaatkan sebaik-baiknya.
Natha menghela napas pelan membacanya. Ia menutup kertas tersebut dan menaruh seperti awal. Saat ingin keluar dan menutup pintu laboratorium, terdengar suara pintu terbuka dan suara langkah kaki, sepertinya itu dirinya dari masa lalu sepulang sekolah. Itu artinya, ia harus bersembunyi saat ini.
Natha menghembuskan napas, yang harus Natha lakukan saat ini adalah, mencari keberadaan Satya, dan menghentikannya untuk pindah di sekolahnya. Ia mengendap-endap menuju kamar untuk mengambil ponsel miliknya, dengan cepat ia menyambar ponsel lalu mensearching instagram milik Satya untuk mencari beberapa informasi tentangnya. Saat melihat ke dalam kamar dan tampak dirinya dari masa lalu sedang kebingungan mencari ponsel yang berada di genggamannya, ia merasa dejavu lalu menertawakan. Pantesan waktu itu gue bingung nyari HP.
*
Natha menunggu di depan SMA Darmawangsa. SMA yang ia duga sebagai sekolah Satya menurut lokasi yang dilihat di sorotan instagram milik Satya.
Dari dalam sekolah, Natha melihat segerombol siswa yang mengenakan jersey. Ia benar-benar berharap Satya berada diantaranya walaupun tidak ada informasi yang ia dapat mengenai Satya ikut ektrakurikuler basket atau tidak.
Matanya meneliti satu per satu wajah siswa-siswa itu. Ia menghela napas pelan, tidak ada Satya di antara enam lelaki yang lewat tadi. Ia mendudukkan diri di halte depan sekolah elit tersebut.
“Iya Pah, ini lagi nunggu Pak Arif jemput, katanya ban mobil bocor, mungkin agak sedikit terlambat buat jemput Satya.”
Suara tersebut membuat mata Natha terbelalak. Itu Satya.
Natha akan memulai misinya saat ini. Dengan susah payah Natha mengeluarkan air mata bohongannya. Suaranya ia buat terisak supaya terlihat alami, sesekali melirik Satya yang berada tidak jauh darinya dan berharap dinotice olehnya.
“Are you okay?”
Yes! Batin Natha bersorak. Suara tangisnya ia perkeras dan dibuat sesendu mungkin.
“Hei! Lo kenapa?” Satya mencoba bertanya dengan halus.
“Gue tersesat... tolongin gue...” Natha mendongak menatap Satya.
“Kok bisa tersesat?”
“Gue kabur dari rumah,” jawab Natha lirih dan terdengar ragu.
Satya menyugar rambutnya. Ia ingin bertanya banyak, tapi mungkin gadis ini tidak berkenan mengingat dia masih gelisah.
Suara klakson mobil terdengar, jemputan Satya sudah datang. Dalam hati, Natha sudah ketar-ketir kalau dia akan ditinggal sendiri disini.
“Mmm... gue balik dulu ya?” tanpa menunggu persetujuan Natha, Satya membalikkan badan lalu berjalan menjauh dari halte.
“Eh... Sat, eh lo maksudnya,” Natha merutuki bibirnya sendiri. Hampir saja ia menyebut nama Satya tadi.
“Gue boleh ikut lo? Gue nggak tau jalan sekitar sini.” Sumpah, mungkin ini termasuk ke dalam hal yang paling memalukan dalam hidupnya.
Satya terlihat berpikir sebentar. Ia belum pernah kenal sebelumnya dengan gadis ini. Tetapi karena hatinya baik bak dewa (menurutnya sendiri) akhirnya ia menerima tumpangan untuk gadis berambut sebahu itu.
“Buat sementara, lo boleh ikut gue dulu, sampe lo ngerasa tenang.”
Dengan perlahan Natha mengikuti langkah Satya memasuki mobil.
“Pak, ke apartemen aja yah pak.”
Bapak yang sedang menyupir itu mengangguk, lalu Satya membalikkan badannya menghadap Natha yang duduk di kursi belakang.
“Kenapa kabur?”
“Gue ada masalah keluarga. Jadi buat beberapa hari ke depan, mungkin gue ga bakal pulang ke rumah,” jelas Natha.
“Lah, terus pakaian lo gimana?”
Iya juga! Bodoh!
“Ya.... gampang lah kalo masalah itu.”
*
“Btw, gue Satya.”
Dah tau!
“Gue Elnatha,” balas Natha. Sekarang ini mereka berdua sudah berada di apartemen milik Satya.
“Malam ini lo di apartemen gue dulu. Tenangin pikiran lo. Besok gue antar lo ke rumah. Gue mau balik dulu.” Tanpa menunggu persetujuan Natha, Satya melangkah menjauhi apartemennya.
“Eh Satya! Gue disini bukan Cuma buat malam ini. Boleh nggak sih gue tinggal disini dulu buat beberapa hari ke depan?” ucap Natha sedikit malu.
“Terserah lo.” Satya berjalan meninggalkan apartemen.
*
11 Juni 2021
Wajah kusut Satya menjadi pemandangan pagi Natha saat membuka pintu apartemen untuk mencari hawa segar. Satya masuk ke dalam, melewati Natha begitu saja. Setelahnya ia menaruh nasi bungkus di atas meja. Mata Natha berbinar melihatnya, tahu saja sejak semalam ia menahan lapar.
“Lo bolos sekolah?” tanya Satya sembari memperhatikan gerak-gerik Natha yang terlihat bahagia memakan sarapannya.”
“Gue homeschooling,” jawab Natha santai. Ia sudah memikirkan ini tadi malam. Mengarang cerita dibuat semasuk akal mungkin.
“Btw, muka lo kusut banget. Padahal yang lagi kena masalah kan gue,” ucap Natha setelah mencuci tangannya.
“Emang lo kira yang punya masalah Cuma lo?” Satya menatap sinis.
Natha mendengus kesal, ini kenapa berbalik seperti ini.
“Emang masalah lo apa? Kelihatannya lo orang kaya yang pengin apa-apa pasti dapet.”
“Justru itu, sangkin kayanya papa gue, sampe punya sekolah, dan gue ga betah disitu. Pengin pindah sekolah aja.”
Natha terkejut dalam hati. Ternyata Satya sudah memikirkan tentang ini.
“Terus, lo mau pindah kemana?”
“Sebenernya gue udah ngincer sekolah Adiwarna sih...”
“Emang kenapa lo pengin pindah ke sana?”
“Ya gue pengin ada suasana baru,” Satya menjeda sebentar, “Sebenarnya bukan itu alasan utamanya. Gue kesel karena semua prestasi yang gue usahain, selalu dikait-kaitkan dengan privilege dari Papa gue.”
“Oh gitu....” setelah berkata seperti itu Natha termenung memikirkan cara agar Satya membatalkan keputusannya.
“Terus masalah lo pasti ga dibolehin sama orang tua lo?”
Satya yang mendengar itu hanya diam dan memutuskan untuk mengambil topik lain.
*
25 Juni 2021
“Lo udah makan?”
Natha memang belum makan, tetapi ia memilih untuk memberikan respon sebaliknya. Ia mengangguk.
Tanpa mempedulikan jawaban Natha, Satya menarik tangan Natha dan membawanya ke arah motor yang terparkir.
“Mau kemana? Udah malam juga.”
“Nyari makan lah, gue lupa lo belum makan.”
“Tinggal pesan lewat hp kan bisa.”
“Sayang ongkir.”
Natha memutar bola matanya, ternyata masih ada anak orang kaya yang masih memikirkan ongkos kirim.
“Karena gue anaknya ga sombong, walaupun gue orang kaya, makannya di pinggir jalan aja ya. Ga usah di resto.”
Perkataan Satya membuat Natha ingin menjambak rambutnya.
Berteman dengan Satya ternyata seasik itu. Natha bahkan lupa dengan tujuannya kembali ke masa lalu itu apa. Rasa-rasanya, ia tidak akan tega untuk mencegah Satya bersekolah di sekolahnya. Ia ingin berteman lebih lama dengan Satya.
*
10 Juli 2021
Kini hari-hari Natha terbiasa dengan adanya Satya. Tak terasa tepat satu bulan telah berlalu. Tiba saatnya hari ini ia kembali ke masa depan. Ia memutuskan untuk tidak mencegah Satya pindah ke sekolahnya. Justru sekarang ia sangat berharap ia bisa terus berteman dengan Satya.
“Kayaknya gue emang harus pulang deh. Sorry banget gue udah ngerepotin lo hampir sebulan ini. Dan makasih banyak udah mau terima gue dengan baik. Oh iya, lo mau pindah ke Adiwarna kan? Gue juga mau, supaya bisa sering ketemu lo.”
Natha tersenyum mengingat ucapannya semalam. Hatinya resah karena beberapa menit lagi ia harus sudah kembali ke ruang laboratorium. Waktunya sudah habis.
Sekarang ia sedang menunggu Satya membeli minuman, mungkin sudah saatnya, Natha keluar dari mobil lalu menghentikan angkutan umum untuk kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, ia berlari terburu-buru menuju ruang laboratorium. Napasnya tersengal, ia melihat detik di jam kalung tersebut.
5...4...3...2...1
Terdengar suara berdenging nyaring, kepalany sangat sakit persis seperti saat dia hendak ke masa lalu, pandangannya menggelap lalu terjatuh.
Natha terbangun, sudah berada di atas kasur. Ingatannya tentang masa lalu tujuh bulan yang lalu, menghilang sudah. Ia merasakan semuanya normal kembali, seakan tidak terjadi apa-apa. Seperti biasa, dia beranjak dari kasur, lalu menyobek kalender. Sekarang, 17 Desember 2021. Tanggal penerimaan rapor, dan seperti dua tahun sebelumnya, ia akan ditemani oleh bibinya.
Natha mematut diri di depan kaca, lalu mengambil sisir. Rambutnya sudah terlalu panjang, pulang sekolah nanti ia berniat untuk memotong rambutnya.
*
“Nat, aku mau ke kantin. Mau nitip sesuatu?” tanya Zanna, sahabat Natha.
Natha hanya menggeleng. Seperginya Zanna, dia mengambil novel yang selalu ia bawa di tas, yang pastinya selalu berbeda judulnya setiap dia selesai membacanya. Ia juga mengambil headset lalu ditancapkan ke ponselnya. Musik klasik Por Una Cabeza mengalun lembut di telinganya.
Tak berapa lama, dia melihat ada seorang lelaki yang menjatuhkan dua bukunya. Ia tidak peduli dan kembali membaca novelnya. Satya melirik sedikit ke arah Natha. Awalnya dia mengira itu adalah Elnatha yang ia kenal, tetapi setelah melihat rambutnya yang berbeda, dia tidak jadi menyapa. Lalu meneruskan langkahnya menuju aula.
*
“Untuk kelas 12 MIPA 1, atas nama Elnatha Kanza Adhitama ditetapkan sebagai peringkat pertama.”
Deg...
Apa benar itu Elnatha yang ia maksud selama ini?
Lalu setelahnya namanya disebut sebagai peringkat pertama di kelasnya, dan peringkat pertama juga paralel seluruh kelas dua belas. Ada rasa bangga tersendiri di hati Satya. Setelah selama ini Satya diragukan prestasinya karena berada di sekolah milik orangtuanya, kini ia lebih bebas untuk mengekspresikan diri tanpa takut tuduhan-tuduhan tersebut mengganggunya.
*
Sembari menunggu Mamanya mengambil rapor, Satya memilih untuk berjalan-jalan sejenak di area sekolah. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh seorang gadis yang ia duga sebagai Elnatha, berjalan ke arah kamar mandi.
Beberapa saat ia menunggu Natha keluar dari kamar mandi. Ia yakin itu Natha, wajahnya, caranya berjalan. Yang membuatnya ragu adalah, emang dalam waktu enam bulan, rambutnya bisa sepanjang itu dari terakhir dia lihat?
Untuk memastikan, Satya berniat menyapa.
“Hai El.”
Gadis itu terkejut lalu kebingungan memandangnya.
Satya tersenyum tipis, setelah itu berlalu menuju toilet laki-laki, untuk menutupi rasa malunya, meninggalkan gadis yang sedang kebingungan itu. Jika itu benar Elnatha, maka bukan respon itu yang diberikan seharusnya.
Bagaimanapun Natha memutuskan untuk menghentikan atau tidak Satya pindah di sekolah ini, nyatanya dari awal Satya memang sudah berada disini. Dan keputusannya untuk menggagalkan misinya kembali ke masa lalu, pun percuma karena ada satu hal yang ia lupakan. Ingatannya tentang masa lalu, akan terhapus ketika sudah kembali ke masa yang sebenarnya.
Baca Juga: Cerpen "Penjemput Kenangan"
Cerpen "Penjemput Kenangan"
Penjemput Kenangan
Karya: Rezqiana Chantika R.
Catatan Sekolah Estetik!
![]() |
| instagram: @rezqianotes |
Ini Aku
Halo semuanya!
Sebenarnya aku nggak tahu mau nulis apa. Tapi karena disuruh praktek bikin artikel, yaudah deh nulis seadanya.
Namaku Rezqiana Chantika Ramadhani. Kalo kepanjangan, bisa dipanggil Nana aja.
Akhirnya bisa bikin blog sendiri, karena ikut workshop yang pengisi materinya Pak Hoeda dan Mbak Widi kece.
Blog ini mungkin akan aku isi tentang tulisan-tulisan hasil kegabutanku.
Yang mau baca ya silakan, yang nggak juga gapapa.
Sekian, terimagaji🙏🏻








