Hidden Love [Series Update]

0
COM

Satu-satunya drama yang aku rewatch sejauh ini.

Ceritanya ringan, lucu, dan memorable.

Ceritanya tentang anak perempuan bernama Sang Zhi yang suka kepada teman kakaknya--Duan Jiaxu--. Dia suka semenjak SMP, sedangkan teman kakaknya itu kuliah. Selisih umur mereka lima tahun.

Perkembangan kisah mereka lambat, tetapi nggak ngebosenin. Dari Sang Zhi SMP, SMA, kuliah, magang, bagus banget penyajiannya.

Akting Zhao Lusi juga keren banget. Bener-bener bisa menyesuaikan antara karakter saat SMA dan karakter dewasanya.

Kehidupan Sang Zhi juga idaman sih haha. Dia kaya, dari keluarga yang harmonis, teman-temannya yang baik, dan kisah cintanya pun mulus (walaupun nunggu bertahun-tahun sih).

Karakter Duan Jiaxu juga bagus. Dia act of service banget. Cuma kasihannya dari keluarga yang kurang beruntung. Jadi dia harus bekerja keras buat memenuhi kebutuhannya (ditambah hutang orangtuanya lagi). Tapi akhirnya dia sukses jadi pembuat games kok.

Interaksi Sang Zhi dan kakaknya (Sang Yan) juga lucu. Aku jadi ngefans sama Victor Ma.

Oh iya, jangan lupakan outfit Sang Zhi yang gemes-gemes banget.

7 Kebiasaan Orang yang Nyebelin Banget // Non-Fict Book Resume

0
COM

Buku ke-3 Om Piring yang aku baca setelah The Alpha Girl's Guide dan Filosofi Teras.

Suka banget sama gaya bahasa Om Piring disini, banyak jokesnya haha.

Jadi buku ini tuh ngebahas kebiasaan-kebiasaan orang yang nyebelin menurut survei yang dibuat Om Piring.

Quotes yang aku suka dari buku ini adalah, "Tidak semua orang bisa menjadi manusia yang berguna, tetapi semua orang harusnya bisa menjadi manusia yang tidak menyebalkan."

Isinya ada kebiasaan-kebiasaan nyebelin di sekolah/kampus, di kantor, di jalan, di tempat umum (mall/bioskop). Terus juga kegiatan kayak ngumpul keluarga, saat kencan, dan perilaku di sosial media.

Pas baca ini, aku sadar kalau ternyata banyak hal-hal yang dilakukan manusia, dan itu menyebalkan bagi manusia lain. Entah hal itu disadari oleh pelaku atau tidak. Dan aku juga sadar, aku adalah pelaku dari beberapa kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Setelah baca buku ini, harapannya (dan sedang diusahakan), aku tidak lagi menjadi bagian dari orang-orang yang menyebalkan tersebut. Intinya lebih aware sama keadaan sekitar dan nggak egois.

Dan jika aku jadi korban dari pelaku-pelaku yang lain, berusaha untuk, "yaudahlah ya" dan berharap juga orang-orang tersebut baca buku ini ^^

Perspektif Baru | thought part 4

0
COM

Sumpah, aku udah lama ngga nulis.tapi sekarang tiba-tiba banget pengin nulis sesuatu yang ada di kepalaku. Begini ceritanya, tadi aku habis jenguk rumah baru mbakku. Pulang naik motor bareng sama masku. Selama perjalanan, tumben banget dia mau ngobrol. Pembahasannya lumayan dalem. Aku cuma menanggapi secukupnya dan setaunya, sisanya aku mendengarkan. Bukan isi ceritanya yang mau aku ungkapkan, tapi pelajaran baru yang aku dapatkan. 

Selama ini aku jarang atau bahkan ngga pernah dengar sesuatu dari perspektif yang berbeda, especially perspektif laki-laki. Mungkin karena teman ngobrolku cuma mama. Dimana kami selalu punya pandangan dan pendapat yang sama.

Ternyata banyak hal yang menurut aku salah, tapi nyatanya ngga gitu kalo dilihat dari perspektif yang berbeda. Banyak hal yang memang berbeda dengan apa yang kita pahami. Setelah itu tugasku hanya mencoba mendengarkan, memahami, menghormati, dan menyesuaikan.

Aku belajar juga kalo ternyata aku butuh banget banyak mendengar. Mendengar dari sudut pandang orang lain, melihat budaya dan keyakinan orang lain, menyelami isi pikiran orang lain.

Karena dunia ini ngga melulu tentang apa yang aku pikirin dan yakini.

Mungkin ini jadi pembelajaran aku juga kedepannya kalo kita ga harus bareng-bareng terus dengan orang yang sefrekuensi. Karena nyatanya, dunia itu ya ga melulu sama dengan yang aku inginkan.

Allah nyiptain manusia dengan berbagai latar belakang, berbagai keyakinan, berbagai perasaan. Kita harus mengakui dan menghormati itu.

Walau ada rasa takut, tapi aku pengin lebih melihat dunia luar. Ada apa aja disana. Ada apa aja hal yang bikin aku ngerasa “wah..”. Ada hal apa aja yang bisa aku pelajari.

Ya seperti itu, obrolan sedikit yang bisa memberi aku pencerahan yang berharga. Walau terkadang ada hal yang menyedihkan, ketika sekeluarga tetapi beda pemahaman. Dimana hal itu membuat kami susah menyatu. Bisa dibilang, keluarga tapi rasanya asing. Katanya.


Ditulis: 8 Maret 2024

Sok tahu | thought part 3

0
COM

Ternyata bener

Yang paling tau diri kamu yaitu kamu sendiri, bukan orang lain

Emang kadang kita ga nyadar apa yang biasanya kita lakuin

Tapi secara garis besar, kita sendiri yang merasakannya dan menyadarinya

Itu sih yang selama ini aku alamin dan aku pikirin

Contohnya, yang paling sering terjadi sama aku

Aku dianggap pinter sama orang2. Cuma karena orang itu ngeliat aku bikin story buku2. Segampang itu? Bahkan mereka gatau diri aku sebenernya. Yang males2an belajar serius

Aku cuma suka baca sama nulis, terus berpikir yang simpel. Aku jarang banget niat belajar yang serius

Mungkin, kalo orang2 tau nilaiku bagus dan aku dianggap rajin, bukan berarti aku pinter. Tapi perfeksionis. Aku berusaha memberikan yang terbaik walaupun itu butuh effort lebih

Nah kan, yang paling tau diri kamu ya kamu

Tetapi, kita juga harus denger kata orang lain, supaya jadi bahan evaluasi biar lebih baik lagi kedepannya

Jangan pernah menganggap diri kamu sudah sempurna

Karena ga ada yang 

sempurna di dunia ini. 


Ditulis: 25 September 2021


Zona Nyaman | thought part 2

0
COM

 Keluar dari zona nyaman

Aku masih belum paham maksudnya keluar dari zona nyaman itu apa

Ke-lu-ar-da-ri-zo-na-nya-man berarti ga nyaman dong? 

Buat apa kita ngelakuin hal yang bikin kita ga nyaman? 

Bukan itu maksudnya Na! 

Kalo menurut aku, keluar dari zona nyaman bukan berarti ngelakuin hal yang bikin kita ga nyaman

Ga harus ngerubah diri kita

Maksudnya tuh misalkan, aku suka sendiri, aku ga suka bersosialisasi. Itu berarti aku lagi dalam zona nyaman kan? 

Kita bisa bikin sesuatu dalam zona nyaman itu

Misalnya, kita suka baca buku sendirian sama nulis2. Kita bisa aja nulis buku atau cerita, terus dibukuin kan? Dapet duit juga

Ga harus keluar dari zona nyaman buat menentukan kesuksesan

Yang penting kita tahu, bisa mengolah, dan bisa mengatur rasa nyaman itu menjadi sesuatu yang menguntungkan

Ngerti lah ya? 

Aku bingung jelasinnya

Contoh aja deh

Aku suka sendirian. Nulis, baca, dengerin musik, podcast, audiobook, dan lain lain asal sendirian. Dengan itu, aku bisa manfaatin, nulis cerita misalnya. Ga perlu keluar dari zona nyaman, tapi dapet duit kalo kita bisa ngolahnya.

Gitu deh kurang lebih.


Ditulis: 20 September 2021


Belajar | thought part 1

0
COM

Satu kata yang aku sendiri masih bingung menerjemahkannya. 

Aku kira belajar itu menggunakan buku tebal, kacamata, mulut terkatup, pandangan fokus pada tulisan. 

Dunia ini sebuah pembelajaran. Tidak akan pernah habis sampai mati. 

Saat kamu keluar rumah pun, jika kamu memandang sesuatu menggunakan akal pikiran, itu pun sebuah pembelajaran. 

Saat ini yang kupikirkan mengenai belajar materi sekolah adalah, bukan untuk sekedar hafalan, memahami, dan konsep saja. Tetapi tentang manfaat. 

Selama ini cara pandangku terhadap belajar salah. 

Mungkin menurutku, paham saja saat belajar itu cukup. Saat ujian mendapatkan nilai bagus berarti belajarku berhasil. Padahal tidak, setelah keluar dari ruang ujian, semua yang aku katakan paham menguap begitu saja. Menghilang entah kemana. 

Lantas, seperti itukah disebut belajar?

Ketika kita tidak menerapkan dalam kehidupan. 

6 tahun mengenyam bangku SD

3 tahun bangku SMP

dan 3 tahun bangku SMK

Apa yang aku dapatkan? 

Mungkin lebih bukan dari yang kamu pusingkan sehari-hari, materi dan tugas. 

Tapi lebih pada pertemanan, pengalaman, dan tanggung jawab. 

Terus jika seperti itu, kenapa kita harus repot-repot belajar banyak materi? 

Logaritma, puisi, teks observasi, homo sapiens, dan lain-lain? 

Kenapa kita tidak diajari cara berteman saja? 

Cara bergaul yang benar

Cara agar kita tidak menyakiti hati orang lain

Cara pede ngomong di depan umum. 

Bukankah itu lebih berfaedah? 

Sekarang, aku nemu ide baru. 

Bagaimana kalau di masa depan nanti, aku membangun sekolah yang berkualitas berbeda kurikulum dari yang lain, tapi bisa go internasional? 

Entahlah. Hanya ide saja. 


Ditulis: 23 Agustus 2021


My mind today

0
COM

Tiba-tiba kepikiran buat bikin blog ini hidup lagi, dengan diaryku sebagai isinya.

Mungkin bakal semacam thoughts, atau pemikiran yang muncul tiba-tiba.

Selama ini aku nulis-nulis di wattpad, terus nggak aku publish.

Tapi disini walaupun untuk publik, kayaknya nggak bakal ada yang nemuin aku juga.

Semoga.

CAUTION BLOGGER! Workshop Pembuatan Blog Terkeren!

2
COM

 

Caution Blogger



Kalau aku disuruh untuk nge-rating workshop ini, aku akan ngasih 10/10. Keren abiezzzz.....

Acara yang diadakan selama dua hari ini, memberi banyak pengalaman dan pembelajaran baru untuk para pesertanya. Tepat pada tanggal 24-25 Agustus 2022, bertempat di kafe Spasi Creative Space di Jalan Sawo Barat No. 46, Kraton, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Jawa Tengah, pelatihan pembuatan blog ini dilaksanakan.

Tempat Nongkrong
http://spasimovingimage.com

Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal yang bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kota Tegal bagi siswa SLTA se-Kota Tegal, dan dibuka oleh Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal, Yono Daryono.

SMK N 2 Tegal yang merupakan sekolahku sendiri, mengirimkan empat orang siswi untuk mengikuti pelatihan blog ini. Kami sangat bersemangat dalam mengikutinya walaupun kegiatannya hampir sehari penuh, karena Workshop dimulai pukul 08.00 sampai pukul 15.30. Tetapi jangan khawatir, istirahat pasti ada kok! Bahkan kita mendapatkan makan siang, snack, dan minuman tentunya.

Nah, untuk pematerinya itu ada Mas Hoeda, dan Mbak Widhie. Pada hari pertama, Mas Hoeda atau "Ki Demang" lebih dahulu nih yang mengisi materi. Beliau menjelaskan tentang pengenalan blog, cara membuat dan mengatur blog, membuat postingan, mengatur tema dan tata letak, serta masih banyak lagi. Sedangkan pada hari kedua, Mbak Widhie alias "Emak Blogger" yang mengisi materi tentang dasar SEO (Search Engine Optimization) atau agar situs atau blog mudah ditemukan oleh banyak orang.

Cara penyampaian Mas Hoeda dan Mbak Widhie sangat mudah dipahami, sehingga membuat blog terasa mudah, menyenangkan, dan nggak ngebosenin.

Pemateri Workshop

Kita juga dapat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang baru dari berbagai sekolah yang memiliki hobi dan tujuan yang sama. Sehingga relasi kita bertambah, dan dapat saling berdiskusi, hingga bercanda bersama.

Wait! kita para peserta juga mendapat kaos dan totebag bertuliskan "Caution Blogger" loh.... Dengan itu, aku merasa sudah bergabung dalam komunitas blogger, hihihi... 

Sangat disayangkan acara hanya berlangsung dua hari. Semoga kedepannya akan diadakan pelatihan lanjutan untuk kita para peserta, dan juga dijadikan rutinitas setiap tahunnya sehingga adik-adik kita dapat belajar membuat blog.

Harapan dariku untuk para peserta yang telah mengikuti workshop ini, semoga kalian tidak barlen (bubar klalen-dalam bahasa Tegal yang artinya, setelah selesai langsung lupa). Ilmu mahal ini bisa kita dapatkan dengan gratis. Terus, kenapa tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya? Padahal, jika kita mampu mengelola blog dengan baik dan konsisten, dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah kan? dan juga kalian dan penyelenggara tidak merasakan sia-sia dalam hal ini.

Untuk penyelenggara, aku tidak ingin banyak mengungkapkan harapan (karena berharap itu sakit), hanya saja semoga kegiatan seperti ini akan terus dilaksanakan. Bukan hanya pembuatan blog saja. Tetapi juga tentang kepenulisan, seni musik, seni rupa, hingga kebudayaan dapat diprogramkan untuk selanjutnya.

Aku sangat berterimakasih kepada Dewan Kesenian Kota Tegal selaku penyelenggara, yang sudah mengadakan acara workshop ini, dan dengan segala fasilitas yang kita dapatkan. Sangat bermanfaat untuk menambah pengalaman dan ilmu pengetahuan untuk kita. Karena selain itu, kita para peserta juga mendapatkan kaos, totebag, alat tulis, snack, dan juga materi. Lumayan kannn....


Untuk yang penasaran dengan pemateri kece Caution Blogger, bisa mengunjungi blog mereka. Ini Mas Hoeda, dan ini Mbak Widhie. Dan untuk yang pengen mampir ke Kafe Spasi Creative Space, ini websitenya.

Jangan lupa kunjungi artikel aku yang lainnya: Catatan Sekolah Estetik!


#lombablog #bloggermuda #belajarblog

Workshop Pembuatan Blog

Workshop Pembuatan Blog


Cerpen "Decision"

1
COM
Cerpen


Decision

Karya: Rezqiana Chantika R.

17 Desember 2021

Gadis cantik itu terlihat fokus membaca novel karangan Tere Liye . Telinganya tersumpal headset dengan sebuah musik klasik mengalun memenuhi rongga telinga. Punggungnya bersandar pada sandaran bangku di gazebo taman sekolah. Sesekali ia menyelipkan rambut panjangnya yang menutupi pandangan ke belakang telinga.

Dia, Elnatha. Gadis yang selalu menduduki peringkat satu paralel di sekolah.

Ketenangannya terganggu saat suara benda terjatuh terdengar di sampingnya. Dia melihat seorang lelaki yang belum pernah ia lihat selama ini, mengambil buku Biologi Campbell dan buku Mekanika Kuantum yang terjatuh lalu ia masukkan ke dalam tas. Dahi Natha mengerut melihat dua buku tersebut. 

“Hai Nat!”

Zanna, sahabatnya itu membawa dua botol minuman yang dibeli dari kantin, lalu menyodorkan satu untuk Natha.

“Pengumuman peringkat sebentar lagi mau diumumkan. Lo nggak ada niatan buat masuk ke aula?”

Natha mengangguk sembari membuka tutup botol, “Gue deg-degan Na.”

“Kenapa deg-degan? Pasti lo yang dapat peringkat satu lagi,” ucap Zanna.

Natha hanya mengangkat kedua bahunya.

Mereka berdua melangkah menuju aula, suasananya sangat ramai dipenuhi wali murid yang hendak mengambil rapor. Lagi-lagi Natha tersenyum getir melihatnya. Tidak ada orang tuanya disini.

Bapak kepala sekolah mulai menyebutkan satu per satu nama siswa yang mendapat peringkat di kelas masing-masing. Kini tiba giliran kelasnya,

“Untuk kelas 12 MIPA 1, atas nama Elnatha Kanza Adhitama ditetapkan sebagai peringkat pertama.”

Zanna spontan memeluk Natha sebagai wujud rasa bahagianya. Setelah kelas-kelas selanjutnya diumumkan, sampai kepada pengumuman yang paling ditunggu-tunggu.

“Untuk peringkat paralel kelas 12 tahun ajaran 2021/2022 diraih oleh...” Bapak kepala sekolah dengan sengaja menjeda kalimatnya. Natha terlihat tenang walaupun hatinya tidak begitu. 

“.... Rey Satya Darmawangsa dari kelas 12 MIPA 4.”

Hati Natha mencelos seketika. Benarkah bukan namanya yang disebut seperti biasa?

Tepuk tangan menggema di seluruh antero aula SMA Swasta Adiwarna. Seorang lelaki menaiki panggung lalu disalami oleh guru-guru sebagai wujud apresiasi. Dia, cowok tadi yang menjatuhkan buku-buku saat di taman.

Dengan berat hati Natha keluar dari aula, tanpa mempedulikan namanya yang disebut sebagai peringkat dua paralel yang diucapkan oleh Bapak Kepala Sekolah. 


*


“Udah gapapa Nat, belum rezeki. Lagian masih semester satu juga, masih ada kesempatan lo nyalip Satya di kelulusan nanti,” tenang Zanna di samping Natha yang tertunduk sedih.

“Dia siapa?”

“Apanya? Siapa yang lo maksud?” tanya Zanna mengerutkan keningnya.

“Satya.”

“Dia murid baru disini, nggak baru-baru banget sih. Sudah pindah semenjak kenaikan kelas 12, pindahan dari SMA Darmawangsa. Lo nggak tau?”

Natha menggeleng pelan.

“Dari awal gue udah duga, kalo bukan lo, ya dia yang bakal dapet peringkat. Tapi dia ganteng banget btw.”

Zanna tersenyum malu saat mengucapkan kalimat terakhir. Ia menunjukkan akun Instagram milik cowok bernama Rey Satya. Terlihat 15.000 akun yang mengikuti. Ada sembilan postingan, delapan diantaranya terlihat Satya sedang memegang trophy, medali, dan sertifikat hasil perlombaan. Dan satu postingan adalah foto candid miliknya, dan likesnya melebihi pengikutnya saat ini.

Hanya satu kata yang terlintas di pikiran Natha tentang Satya saat ini, “mengerikan”. Kepala Natha tiba-tiba pusing melihatnya, dia beranjak menuju ke toilet untuk membasuh wajah, lalu menemui bibinya yang mengambilkan rapor untuknya. 

Setelah memastikan wajahnya segar kembali, Natha melangkah keluar dari toilet.

“Hai El.”

Suara itu mengejutkan Natha.

Natha menoleh ragu dengan kening berkerut. El? Elnatha? Namanya? Sejak kapan Satya mengenalinya? Mungkin bukan El itu yang dia maksud, pikir Natha.

Satya tersenyum tipis, setelah itu berlalu menuju toilet laki-laki, meninggalkan Natha yang kebingungan.


*


3 Januari 2022

Natha membolak-balikkan kertas berisi list materi ujian yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Bayangan nama Satya yang disebut sebagai peringkat satu paralel dan fotonya memegang trophy terus menghantui pikirannya. Ia dilanda cemas jika nanti bukan ia yang mendapat gelar sebagai lulusan terbaik tahun ini. Buku-buku tebal dihadapannya seperti tidak berguna lagi selama ini, walaupun ia sudah menghafalkan seluruh isi buku-buku tersebut. 

Natha beranjak dari meja belajarnya menuju cermin yang berada di kamar. Ia mematut dirinya di cermin. Gaya rambut barunya sedikit membuat suasana hatinya membaik. Ia bukan tipe cewek alay yang memotong rambutnya disaat kondisinya yang sedang buruk. Memang sejak kemarin ia berencana memotong rambut panjangnya agar terlihat fresh.

 Malam ini ia tidak mood untuk belajar. Imajinasinya mengembara, pada peristiwa sehari sebelum ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu.

Natha melompat bahagia sembari menunjukkan medali khusus yang dibuat untuk para pemegang peringkat tertinggi kelulusan SMP kepada ayahnya. Sang Ayah tersenyum lalu memeluknya erat.

“Kali ini, Natha peringkat dua Yah, kalau SMA nanti, Natha janji bakal dapat peringkat satu.”

Ayah Natha mengangguk mengiyakan sembari terus tersenyum.

Tersadar dari lamunannya, Natha terbangun lalu berjalan cepat menuju salah satu ruangan yang tidak pernah ia kunjungi semenjak ayahnya meninggal. Tempatnya berada di ujung rumah, dekat dengan dapur tetapi ada tembok sebagai penyekat sehingga ruangan tidak terlihat.

Tangan Natha menggantung pada daun pintu, matanya tertuju pada tulisan ukiran kayu ‘Prof. Adhitama’. Perlahan ia memasuki ruangan yang di dalamnya berisi alat-alat laboratorium yang sudah berdebu. Matanya menyusuri setiap jengkal tempat yang sedang ia pijak saat ini. Pandangannya terhenti pada sebuah jam kalung di sebuah kotak kaca yang tertutup debu dan sarang laba-laba. Natha mengambil kotak tersebut lalu membukanya perlahan. Jam kalung antik berwarna silver kini berada di genggamannya. Kedua matanya mengikuti detak jarum jam yang masih bergerak normal. 

Jarinya menyusuri jam kalung tersebut, lalu tanpa sengaja jarinya memencet tombol yang berada di belakangnya. Suasana tiba-tiba menjadi menggelap perlahan, suara denging yang sangat keras memekakkan telinga, napasnya terasa sesak, kepalanya berputar-putar, ia tidak sanggup. Kesadarannya menghilang, kakinya tidak kuat menopang berat tubuhnya. Ia pun terjatuh ke lantai. 

Kedua bola matanya perlahan terbuka, sisa-sisa sakit kepala masih terasa. Tempatnya masih sama, di ruang laboratorium. Apa yang telah terjadi? Batin Natha bertanya-tanya.

Setelah menyesuaikan dengan suasana, ia baru tersadar atas apa yang telah terjadi. Dengan terburu-buru ia berlari menuju kamarnya. Ia melihat kalender yang tertempel pada dinding, yang selalu ia sobek setiap harinya.

10 Juni 2021

Itu artinya, ia kembali kurang lebih ke tujuh bulan yang lalu. Sungguh, tadi Natha hanya ingin mengecek apakah jam kalung yang merupakan mesin waktu masih berada pada tempatnya. Ia benar-benar belum siap. Rasanya Natha ingin menangis sekarang. Bagaimana ini?

Baiklah, karena dirinya sudah terlanjur terjebak di masa lalu, ia akan mulai menjalankan misi yang tiba-tiba ia rancang saat sebelum pergi ke ruang laboratorium milik ayahnya. Yang paling penting adalah, ia harus mematuhi peraturan tertulis yang pernah ayahnya bilang empat tahun yang lalu. 

Ia mengambil sebuah kertas kuno yang terselip di dalam kotak jam tersebut.

Jangan sampai bertemu diri sendiri di masa lalu

Jangan sampai orang masa lalu tau bahwa dirinya dari masa depan.

Anda hanya bisa bertahan selama satu bulan di masa lalu, maka manfaatkan sebaik-baiknya.

Natha menghela napas pelan membacanya. Ia menutup kertas tersebut dan menaruh seperti awal. Saat ingin keluar dan menutup pintu laboratorium, terdengar suara pintu terbuka dan suara langkah kaki, sepertinya itu dirinya dari masa lalu sepulang sekolah. Itu artinya, ia harus bersembunyi saat ini.

Natha menghembuskan napas, yang harus Natha lakukan saat ini adalah, mencari keberadaan Satya, dan menghentikannya untuk pindah di sekolahnya. Ia mengendap-endap menuju kamar untuk mengambil ponsel miliknya, dengan cepat ia menyambar ponsel lalu mensearching instagram milik Satya untuk mencari beberapa informasi tentangnya. Saat melihat ke dalam kamar dan tampak dirinya dari masa lalu sedang kebingungan mencari ponsel yang berada di genggamannya, ia merasa dejavu lalu menertawakan. Pantesan waktu itu gue bingung nyari HP.


*


Natha menunggu di depan SMA Darmawangsa. SMA yang ia duga sebagai sekolah Satya menurut lokasi yang dilihat di sorotan instagram milik Satya. 

Dari dalam sekolah, Natha melihat segerombol siswa yang mengenakan jersey. Ia benar-benar berharap Satya berada diantaranya walaupun tidak ada informasi yang ia dapat mengenai Satya ikut ektrakurikuler basket atau tidak.

Matanya meneliti satu per satu wajah siswa-siswa itu. Ia menghela napas pelan, tidak ada Satya di antara enam lelaki yang lewat tadi. Ia mendudukkan diri di halte depan sekolah elit tersebut.

“Iya Pah, ini lagi nunggu Pak Arif jemput, katanya ban mobil bocor, mungkin agak sedikit terlambat buat jemput Satya.”

Suara tersebut membuat mata Natha terbelalak. Itu Satya.

Natha akan memulai misinya saat ini. Dengan susah payah Natha mengeluarkan air mata bohongannya. Suaranya ia buat terisak supaya terlihat alami, sesekali melirik Satya yang berada tidak jauh darinya dan berharap dinotice olehnya.

“Are you okay?”

Yes! Batin Natha bersorak. Suara tangisnya ia perkeras dan dibuat sesendu mungkin.

“Hei! Lo kenapa?” Satya mencoba bertanya dengan halus.

“Gue tersesat... tolongin gue...” Natha mendongak menatap Satya.

“Kok bisa tersesat?” 

“Gue kabur dari rumah,” jawab Natha lirih dan terdengar ragu.

Satya menyugar rambutnya. Ia ingin bertanya banyak, tapi mungkin gadis ini tidak berkenan mengingat dia masih gelisah.

Suara klakson mobil terdengar, jemputan Satya sudah datang. Dalam hati, Natha sudah ketar-ketir kalau dia akan ditinggal sendiri disini.

“Mmm... gue balik dulu ya?” tanpa menunggu persetujuan Natha, Satya membalikkan badan lalu berjalan menjauh dari halte.

“Eh... Sat, eh lo maksudnya,” Natha merutuki bibirnya sendiri. Hampir saja ia menyebut nama Satya tadi.

“Gue boleh ikut lo? Gue nggak tau jalan sekitar sini.” Sumpah, mungkin ini termasuk ke dalam hal yang paling memalukan dalam hidupnya. 

Satya terlihat berpikir sebentar. Ia belum pernah kenal sebelumnya dengan gadis ini. Tetapi karena hatinya baik bak dewa (menurutnya sendiri) akhirnya ia menerima tumpangan untuk gadis berambut sebahu itu.

“Buat sementara, lo boleh ikut gue dulu, sampe lo ngerasa tenang.”

Dengan perlahan Natha mengikuti langkah Satya memasuki mobil.

“Pak, ke apartemen aja yah pak.”

Bapak yang sedang menyupir itu mengangguk, lalu Satya membalikkan badannya menghadap Natha yang duduk di kursi belakang.

 “Kenapa kabur?”

“Gue ada masalah keluarga. Jadi buat beberapa hari ke depan, mungkin gue ga bakal pulang ke rumah,” jelas Natha.

“Lah, terus pakaian lo gimana?”

Iya juga! Bodoh!

“Ya.... gampang lah kalo masalah itu.”


*


 “Btw, gue Satya.”

Dah tau!

“Gue Elnatha,” balas Natha. Sekarang ini mereka berdua sudah berada di apartemen milik Satya.

“Malam ini lo di apartemen gue dulu. Tenangin pikiran lo. Besok gue antar lo ke rumah. Gue mau balik dulu.” Tanpa menunggu persetujuan Natha, Satya melangkah menjauhi apartemennya.

“Eh Satya! Gue disini bukan Cuma buat malam ini. Boleh nggak sih gue tinggal disini dulu buat beberapa hari ke depan?” ucap Natha sedikit malu.

“Terserah lo.” Satya berjalan meninggalkan apartemen.


*


11 Juni 2021

Wajah kusut Satya menjadi pemandangan pagi Natha saat membuka pintu apartemen untuk mencari hawa segar. Satya masuk ke dalam, melewati Natha begitu saja. Setelahnya ia menaruh nasi bungkus di atas meja. Mata Natha berbinar melihatnya, tahu saja sejak semalam ia menahan lapar.

“Lo bolos sekolah?” tanya Satya sembari memperhatikan gerak-gerik Natha yang terlihat bahagia memakan sarapannya.”

“Gue homeschooling,” jawab Natha santai. Ia sudah memikirkan ini tadi malam. Mengarang cerita dibuat semasuk akal mungkin.

“Btw, muka lo kusut banget. Padahal yang lagi kena masalah kan gue,” ucap Natha setelah mencuci tangannya.

“Emang lo kira yang punya masalah Cuma lo?” Satya menatap sinis.

Natha mendengus kesal, ini kenapa berbalik seperti ini.

“Emang masalah lo apa? Kelihatannya lo orang kaya yang pengin apa-apa pasti dapet.”

“Justru itu, sangkin kayanya papa gue, sampe punya sekolah, dan gue ga betah disitu. Pengin pindah sekolah aja.”

Natha terkejut dalam hati. Ternyata Satya sudah memikirkan tentang ini.

“Terus, lo mau pindah kemana?”

“Sebenernya gue udah ngincer sekolah Adiwarna sih...”

“Emang kenapa lo pengin pindah ke sana?”

“Ya gue pengin ada suasana baru,” Satya menjeda sebentar, “Sebenarnya bukan itu alasan utamanya. Gue kesel karena semua prestasi yang gue usahain, selalu dikait-kaitkan dengan privilege dari Papa gue.”

“Oh gitu....” setelah berkata seperti itu Natha termenung memikirkan cara agar Satya membatalkan keputusannya.

“Terus masalah lo pasti ga dibolehin sama orang tua lo?”

Satya yang mendengar itu hanya diam dan memutuskan untuk mengambil topik lain.


*



25 Juni 2021

“Lo udah makan?”

Natha memang belum makan, tetapi ia memilih untuk memberikan respon sebaliknya. Ia mengangguk.

Tanpa mempedulikan jawaban Natha, Satya menarik tangan Natha dan membawanya ke arah motor yang terparkir.

 “Mau kemana? Udah malam juga.”

“Nyari makan lah, gue lupa lo belum makan.”

“Tinggal pesan lewat hp kan bisa.”

“Sayang ongkir.”

Natha memutar bola matanya, ternyata masih ada anak orang kaya yang masih memikirkan ongkos kirim.

“Karena gue anaknya ga sombong, walaupun gue orang kaya, makannya di pinggir jalan aja ya. Ga usah di resto.”

Perkataan Satya membuat Natha ingin menjambak rambutnya.

Berteman dengan Satya ternyata seasik itu. Natha bahkan lupa dengan tujuannya kembali ke masa lalu itu apa. Rasa-rasanya, ia tidak akan tega untuk mencegah Satya bersekolah di sekolahnya. Ia ingin berteman lebih lama dengan Satya.


*


10 Juli 2021

Kini hari-hari Natha terbiasa dengan adanya Satya. Tak terasa tepat satu bulan telah berlalu. Tiba saatnya hari ini ia kembali ke masa depan. Ia memutuskan untuk tidak mencegah Satya pindah ke sekolahnya. Justru sekarang ia sangat berharap ia bisa terus berteman dengan Satya.

“Kayaknya gue emang harus pulang deh. Sorry banget gue udah ngerepotin lo hampir sebulan ini. Dan makasih banyak udah mau terima gue dengan baik. Oh iya, lo mau pindah ke Adiwarna kan? Gue juga mau, supaya bisa sering ketemu lo.”

Natha tersenyum mengingat ucapannya semalam. Hatinya resah karena beberapa menit lagi ia harus sudah kembali ke ruang laboratorium. Waktunya sudah habis. 

Sekarang ia sedang menunggu Satya membeli minuman, mungkin sudah saatnya, Natha keluar dari mobil lalu menghentikan angkutan umum untuk kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah, ia berlari terburu-buru menuju ruang laboratorium. Napasnya tersengal, ia melihat detik di jam kalung tersebut.

5...4...3...2...1

Terdengar suara berdenging nyaring, kepalany sangat sakit persis seperti saat dia hendak ke masa lalu, pandangannya menggelap lalu terjatuh. 

Natha terbangun, sudah berada di atas kasur. Ingatannya tentang masa lalu tujuh bulan yang lalu, menghilang sudah. Ia merasakan semuanya normal kembali, seakan tidak terjadi apa-apa. Seperti biasa, dia beranjak dari kasur, lalu menyobek kalender. Sekarang, 17 Desember 2021. Tanggal penerimaan rapor, dan seperti dua tahun sebelumnya, ia akan ditemani oleh bibinya.

Natha mematut diri di depan kaca, lalu mengambil sisir. Rambutnya sudah terlalu panjang, pulang sekolah nanti ia berniat untuk memotong rambutnya.

*


 “Nat, aku mau ke kantin. Mau nitip sesuatu?” tanya Zanna, sahabat Natha.

Natha hanya menggeleng. Seperginya Zanna, dia mengambil novel yang selalu ia bawa di tas, yang pastinya selalu berbeda judulnya setiap dia selesai membacanya. Ia juga mengambil headset lalu ditancapkan ke ponselnya. Musik klasik Por Una Cabeza mengalun lembut di telinganya. 

Tak berapa lama, dia melihat ada seorang lelaki yang menjatuhkan dua bukunya. Ia tidak peduli dan kembali membaca novelnya. Satya melirik sedikit ke arah Natha. Awalnya dia mengira itu adalah Elnatha yang ia kenal, tetapi setelah melihat rambutnya yang berbeda, dia tidak jadi menyapa. Lalu meneruskan langkahnya menuju aula.


*


“Untuk kelas 12 MIPA 1, atas nama Elnatha Kanza Adhitama ditetapkan sebagai peringkat pertama.”

Deg...

Apa benar itu Elnatha yang ia maksud selama ini?

Lalu setelahnya namanya disebut sebagai peringkat pertama di kelasnya, dan peringkat pertama juga paralel seluruh kelas dua belas. Ada rasa bangga tersendiri di hati Satya. Setelah selama ini Satya diragukan prestasinya karena berada di sekolah milik orangtuanya, kini ia lebih bebas untuk mengekspresikan diri tanpa takut tuduhan-tuduhan tersebut mengganggunya.


*


Sembari menunggu Mamanya mengambil rapor, Satya memilih untuk berjalan-jalan sejenak di area sekolah. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh seorang gadis yang ia duga sebagai Elnatha, berjalan ke arah kamar mandi.

Beberapa saat ia menunggu Natha keluar dari kamar mandi. Ia yakin itu Natha, wajahnya, caranya berjalan. Yang membuatnya ragu adalah, emang dalam waktu enam bulan, rambutnya bisa sepanjang itu dari terakhir dia lihat?

Untuk memastikan, Satya berniat menyapa.

“Hai El.”

Gadis itu terkejut lalu kebingungan memandangnya.

Satya tersenyum tipis, setelah itu berlalu menuju toilet laki-laki, untuk menutupi rasa malunya, meninggalkan gadis yang sedang kebingungan itu. Jika itu benar Elnatha, maka bukan respon itu yang diberikan seharusnya.

Bagaimanapun Natha memutuskan untuk menghentikan atau tidak Satya pindah di sekolah ini, nyatanya dari awal Satya memang sudah berada disini. Dan keputusannya untuk menggagalkan misinya kembali ke masa lalu, pun percuma karena ada satu hal yang ia lupakan. Ingatannya tentang masa lalu, akan terhapus ketika sudah kembali ke masa yang sebenarnya.


Baca Juga: Cerpen "Penjemput Kenangan"

Cerpen "Penjemput Kenangan"

1
COM
Couple Cartoon



Penjemput Kenangan

Karya: Rezqiana Chantika R.

Seorang wanita duduk di sisi makam. Tanahnya rata tidak seperti saat pertama kali kemari. Bunga tabur yang masih segar menandakan baru saja ada yang berkunjung. Ia melamun dengan tangan kiri mengusap nisan. Jiwanya mengembara ke belakang, pada kenangan yang tak akan terlupakan.

"Ze!"

Gadis cantik bernama Zevanya itu menoleh. Menemukan pemuda dengan balutan seragam putih abu-abu tengah tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.

"Bima?"

Dia Abimanyu, sahabat Zevanya sedari kecil. Kaki jenjang Bima melangkah mendekat pada Zevanya. "Kamu kebiasaan, kalau lagi galau pasti sendirian di taman," ucap Bima. Tak perlu Zevanya bertanya, Bima pasti sudah tahu penyebab ia bersedih dan berakhir menyendiri di taman.

"Es krim mau?" Bima menunjuk ke arah bapak-bapak penjual es krim di pinggir taman. Zevanya berdiri tanda mengiyakan.

"Aneh. Cowok masa suka rasa stoberi?" Zevanya mencibir. Cuaca panas seperti ini cocok untuk makan es krim, walaupun tempat yang sekarang mereka diami tidak lebih baik dari cuacanya.

"Terserah dong. Emangnya rasa memandang gender? Ini tuh soal selera," jawab Bima santai sembari menyendokkan es krim ke mulutnya. Zevanya memutar bola mata malas, ia kembali menikmati es krim rasa coklatnya. Ia ingin cepat-cepat pulang. Pemandangan jalanan yang padat membuat kepalanya pusing.

"Nggak usah mikirin Kenzo! Dia aja nggak mikirin kamu kok." Bima berucap tanpa melihat ke arah Zevanya, "Kamu terlalu fokus sama yang di depan Ze, tanpa mempedulikan yang di belakang," lanjut Bima.

"Maksud kamu?" tanya Zevanya tak mengerti.

Bima hanya menggeleng. Kedua bola matanya beralih pada sepasang jepit rambut motif bunga matahari bertengger apik di rambut Zevanya.

"Jepit rambutnya bagus."

"Iya, ini dapat dari kiriman itu," jawab Zevanya.

Kurang lebih tiga bulan Zevanya mendapatkan kiriman kotak dengan isi berbagai macam benda. Tidak ada surat atau tanda si pengirim dalam kotak itu. Zevanya tak ambil pusing, ia hanya berterimakasih kepada siapa pun yang memberinya, walaupun barang-barang yang ia dapatkan terkadang aneh.

Bima tersenyum menanggapinya. "Ayo kita pulang. Kalo ini kamu harus mau bonceng motorku."

Bukan tanpa alasan, gadis berkuncir kuda itu selalu saja enggan menerima niat baik Bima.

*

Brakk

Suara benda-benda berjatuhan mengenai lantai. Ruang tamu porak poranda layaknya kapal yang habis terkena badai. Cacian, tangisan, dan tamparan kedua orangtuanya saling bersahut-sahutan. Zevanya tak kuat melihatnya, ia berlari menuju kamar dan membanting pintu sekuat-kuatnya. Ia menangis sekeras-kerasnya, memberitahu jagat raya bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

Terlintas rencana buruk dalam pikirannya, ia meraih sekantung obat tidur di laci nakas. Perlahan, ia menenggak lima pil obat tidur. Ia berharap, setelah ini tak akan mendengar perdebatan sengit di antara kedua orangtuanya.

Di sisi lain, Bima terus menghubungi nomor telepon Zevanya. Tidak ada respon. Mendadak Bima khawatir saat mendengar kegaduhan dari dalam rumah temannya. Tak tahan, ia menerobos masuk ke dalam rumah. Didobraknya pintu kamar Zevanya. Betapa terkejutnya ia, mulut Zevanya mengeluarkan busa, tubuhnya kejang-kejang. Tanpa pikir panjang, ia membawa tubuh rapuh Zevanya ke rumah sakit.

*

Bima memandangi wajah layu gadis itu. Raut cerianya hilang akhir-akhir ini. Tatapan matanya kosong, rambutnya acak-acakan bak orang gila. Bagaimana bisa orangtuanya sama sekali tidak memedulikan gadis semata wayangnya ini? Dia terlalu banyak menyimpan luka sendiri.

Bima memasuki ruang rawat Zevanya, lantas duduk di samping brankar. Keberadaannya seperti tak dianggap disana.

"Tahu tidak, saat hujan kemarin, aku melihat anak kecil yang membawa payung," ucap Bima tiba-tiba. Ia mencoba mencari perhatian dari Zevanya. Nyatanya tak berhasil, tak ada reaksi apa pun. Zevanya tetap terdiam, setia dengan tatapan kosongnya.

"Tetapi dia tetap membiarkan tubuhnya diguyur hujan."

Kali ini Zevanya menoleh, mata satunya seakan meminta penjelasan dari cerita tadi. Bima tersenyum lantas melanjutkan, "Saat aku menghampiri, ternyata dia seorang ojek payung. Dia sebatang kara, tidak ada siapa pun yang bisa menjadi curahan hatinya. Saat kuberi dia uang atas jasa ojek payungnya, bibir pucatnya tersenyum senang. Hatiku tersentuh kala itu, dan rasanya tak rela saat membiarkan dia pergi kembali mencari pundi-pundi uang untuk melanjutkan hidup di usianya yang masih sangat belia." Bima mengakhiri cerita dengan senyuman di wajahnya.

"Jadi hidupku jauh lebih baik daripada dia?" tanya Zevanya kepada dirinya sendiri.

"Itu sih terserah pikiran kamu. Yang pasti, apa yang sudah kamu lakukan itu salah. Bunuh diri nggak akan menyelesaikan masalah. Malah menambah masalah baru yang nggak akan bisa kamu selesaikan. Kalau sudah berurusan dengan Tuhan, kita bisa apa?"

Zevanya menunduk merasa bersalah. Ia bahkan tak sanggup mengingat kebodohan yang terlah ia lakukan.

"Sepertinya kamu sudah baikan. Aku ingin pulang dulu, bajuku belum gantinsedari pagi," Bima berdiri dari tempat duduknya.

Zevanya mengangguk tanpa melihat ke arah si pengirin.

"Kamu nggak apa kan aku tinggal?"

"Iya Bim, sudah sana kamu pulang."

*

"Saya ingin bicara dengan Om dan Tante sebentar."

Bima menggiring ayah dan ibu Zevanya ke kantin rumah sakit. Niatnya yang hendak pulang terhambat karena berpapasan dengan orangtua sahabat baiknya itu. Mereka berdua juga belum sempat menjenguk anak gadisnya.

"Saya pikir, saya nggak perlu menjelaskan panjang lebar kenapa Zevanya berada di sini. Dia mencoba untuk bunuh diri dengan meminum banyak obat tidur. Ia banyak menyembunyikan luka."

Sementara Ibu Zevanya menangis tersedu-sedu, Bima melanjutkan, "Sikapnya lebih pendiam dari biasanya. Dia juga sering melamun. Dia pernah bertanya kepada saya, bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang bahagia. Saya tidak tahu ada permasalahan apa di antara Om dan Tante, tetapi saya mohon, tetap perhatikan Zevanya. Dan masalah keadaannya saat ini, saya rasa kalian harus mendengarnya sendiri dari dokter."

*

Pintu ruangan perlahan terbuka, menampilkan sesosok lelaki yang tak pernah ia duga berada di depannya
Alis tebal dan mata tajamnya selalu menjadi daya tariknya. Langkah lebar nan santai itu mendekat ke arahnya.

"Hai Ze! Apa kabar?"

Tolong jangan bangunkan Zevanya jika ini mimpi. Jantungnya berdegup kencang saat melihat senyuman itu. Senyuman yang selalu membuatnya iri kepada siapapun yang mendapatkannya. Dan kini senyuman itu ditujukan kepadanya.

"Hai Kenzo, kabarku baik. Kenapa kamu ada di sini?" Pertanyaan itu keluar dari bibir bergetarnya.

"Bima memberi tahuku."

Kedua alis Zevanya bertaut, ia selalu heran dengan tingkah Bima. Untuk apa anak itu memberitahu keberadaannya kepada Kenzo?

"Aku ingin bilang. Selain Bima, aku juga bisa menjadi tempatmu bersandar. Kita memang nggak kenal dekat sebelumnya. Tapi aku akan coba buka hati."

Zevanya menatap tepat pada kedua manik mata Kenzo. Seperti sihir yang membiusnya sehingga tak rela berpaling walau sedetik pun.

"Jadi, jangan pernah merasa sendiri."

Bima tersenyum dari balik jendela. Hatinya teriris, namun ada perasaan lega juga. Tak akan pernah menyesal ia sudah memberitahukan kepada Kenzo bahwa Zevanya menyukainya.

*

Perasaan Zevanya jauh lebih baik sekarang. Ia tahu Bima sengaja lewat di jalanan yang lebih jauh dari biasanya untuk memperlama durasi bersamanya. Setelah dirawat selama tiga hari di rumah sakit, akhirnya ia dinyatakan boleh menjalani perawatan sendiri di rumah.

Angin semilir menerbangkan helai rambut panjangnya yang tak terikat. Dalam keadaan seperti ini pun, ia masih membayangkan bahwa yang di depannya adalah Kenzo, lelaki yang sudah lama mendiami hatinya.

"Aku mau ke Bandung," ucap Bima tiba-tiba.

"Kapan?" Tanya Zevanya sembari turun dari boncengan motor Bima.

"Besok."

"Pakai apa?"

"Pesawat. Nanti aku bisa lihat kamu loh dari atas."

"Mana bisa? Jauh sekali, kamu nggak bakal bisa lihat."

"Bisa tapi nggak tahu kamu bisa lihat aku apa nggak." Zevanya terdiam. Terserah Bima mau bicara apa.

"Oh iya, nanti aku bawa gitar. Mau nyanyiin kamu sebuah lagu di bawah indahnya langit Bandung."

"Aku kan nggak ikut."

"Aku rekam, nanti aku kirim."

Ia semakin heran dengan sikap Bima yang tidak seperti biasanya.

"Terserah kamu deh."

*

Zevanya memandang kotak yang ia dapat pagi-pagi sehabis sarapan bersama kedua orangtuanya. Kotaknya kecil kali ini, berisi flashdisk yang menjawab segala pertanyaan tentang si pengirim.

Bima, ternyata dia yang mengirim. Di dalamnya terdapat beberapa video Bima bernyanyi di kamar.

Benarkan lagu-lagu ini ditujukan untuknya? Apakah Bima menyukainya? Sejak kapan? Kenapa ia tidak sadar akan hal itu?

Zevanya masih tidak percaya. Ia meraih ponsel hitamnya bermaksud meminta kejelasan pada lelaki itu. Matanya terbelalak, seluruh notifikasi pesannya berisi ucapan duka cita. Ponselnya ia biarkan terjatuh begitu saja. Kepalanya menggeleng tidak percaya. Berkali-kali ia menepuk pipi berharap ini hanya mimpi atau berita bohong belaka.

Bima, teman baiknya telah tiada. Ia mengalami kecelakaan pesawat saat di perjalanan. Semua kenangan tentangnya berputar otomatis dalam ingatannya. Tatapan matanya kosong, perasaannya tak menentu saat itu, ingin menangis pun tak sanggup.

Berita itu benar adanya. Tangisnya pecah saat berada di pemakaman. Matanya terpejam, berharap saat membuka mata Bima berada di sisinya, mengajaknya membeli es krim stroberi. Telinganya terus terngiang perkataan terakhir pada video yang Bima kirim, "Ini adalah kiriman terakhir dari aku, karena selanjutnya, aku akan langsung memberikan kepadamu." Matanya Bima tak akan pernah memberikan langsung kepadanya. Bahkan Bima juga belum sempat mengirimkan video bernyanyi di bawah indahnya langit Bandung.

Andai ia tahu sore itu adalah pertemuan terakhir dengannya. Ia pasti akan memeluk seerat-eratnya lelaki baik itu. Andai ia tahu pagi itu ia akan pergi selamanya, pasti akan ia tahan kepergiannya sekuat tenaga. Andai waktu bisa diputar kembali, ia akan menanggapi segala perhatian Bima dengan baik. Ia mengembuskan napas, mencoba mengenyahkan segala perandaian yang gak akan pernah terwujudkan.

"Terima kasih karena sebelumnya telah banyak memberiku kebahagiaan." Ia tersenyum mencoba mengikhlaskan.

*

"Ma!"

Wanita itu tersadar dari lamunannya beberapa tahun silam. Tangan kirinya masih bertengger pada nisan bertuliskan nama sahabat baiknya itu. Ia menoleh pada putra kecilnya, "Bima?"

Dia Bimasakti, putranya yang selalu mengingatkan pada teman baiknya itu.

"Mama kenapa melamun? Sudah ditunggu Papa dari tadi."

Zevanya mengalihkan pandangan pada lelaki yang kini berdiri di pintu makan. Tersenyum padanya sembari menunjuk ke arah tangan kirinya, tepatnya pada jam tangannya. Alis tebal dan mata tajamnya tetap menjadi favoritnya.

Benar kata orang, cara terbaik melupakan seseorang adalah dengan menemukan orang baru, tetapi bukan berarti ia akan melupakan segala hal tentang dia, biarkan kenangan itu tetap terukir dalam jiwa. Wanita cantik itu mengusap sekali lagi nisan sebagai tanda perpisahan. Ia melangkah meninggalkan pemakaman.

Satu pesa. Yang selalu ia ingat, jangan menunggu kehilangan baru sadar arti menghargai.

~~~~~~~~~~~~

Telah diterbitkan dalam sebuah antologi cerpen "Delapanbelas Bintang di Sepotong Malam" oleh penerbit Dewan Kesenian Kota Tegal, Desember 2021.





Catatan Sekolah Estetik!

5
COM
Studygram Notes
instagram: @rezqianotes

Menulis adalah salah satu hobiku. Menulis apa saja. Cerpen, puisi, diary, bahkan tulisan tangan. Gambar di atas merupakan salah satu dari sekian banyak tulisan tangan buatanku.

Dari hobi tersebut, mengantarkanku menjadi studygram seperti sekarang. Keinginan membagi catatan dengan teman-teman aku wujudkan melalui postingan-postingan di instagram.

Dengan ini, aku akan menjelaskan sedikit tentang studygram.

Apa itu studygram?
Sebenarnya, studygram bermula dari hashtag yang digunakan untuk catatan yang ditulis tangan di instagram. Yang membuat tagar ini begitu populer adalah karena catatan bertagar studygram kerap memiliki desain yang sangat menarik.

Tidak sekedar membagikan catatan, para studygrammers juga membagikan berbagai macam tips belajar dan cara menulis rapi. Catatan yang menarik membuat orang yang melihatnya tertarik untuk membaca, dapat meningkatkan memori, dan mendorong kreativitas. Selain itu juga, mereka dapat berinteraksi dan berteman antar studygrammers dan menyalurkan minat mereka terhadap belajar dan alat tulis.

Komunitas studygram juga supportif, beberapa dari mereka saling membagikan ulang karya sesama yang me-mention mereka. Para studygram juga loyal dalam memberikan giveaway kepada followers mereka.

Dengan adanya para studygram ini, diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar para siswa.




Ini Aku

2
COM


Halo semuanya!

Sebenarnya aku nggak tahu mau nulis apa. Tapi karena disuruh praktek bikin artikel, yaudah deh nulis seadanya.

Namaku Rezqiana Chantika Ramadhani. Kalo kepanjangan, bisa dipanggil Nana aja.

Akhirnya bisa bikin blog sendiri, karena ikut workshop yang pengisi materinya Pak Hoeda dan Mbak Widi kece.

Blog ini mungkin akan aku isi tentang tulisan-tulisan hasil kegabutanku.

Yang mau baca ya silakan, yang nggak juga gapapa.

Sekian, terimagaji🙏🏻